Langsung ke konten utama

KABUT

 



Sebait lagu dari maestro seni Ebiet G Ade yang berbunyi:  

"Kabut, sengajakah engkau mewakili pikiranku
Pekat, katamu peralat menyelimuti matahari
Aku dan semua yang ada di sekelilingku
Merangkak menggapai dalam kelam"

Suasana pagi berangkat kerja meski jam menunjukkan 06:47 WIB memang masih gelap dengan kabut yang menyelimuti sepanjang perjalananku. Jarak pandang yang terbatas membuat aku semakin hati-hati dalam perjalanan. Matahari sudah sepenggalah namun dia malu malu menampakkan diri dan bersembunyi mengintip di seperempat cahayanya yang menembus belahan bumi yang aku pijak pagi ini. 

Kabut identik sekali dengan musim kemarau. malam yang dingin menusuk tulang, udara basah berpadu menyentuh tanah yang dingin membentuklah titik-titik air kecil meliputi di udara. Mungkin semua orang yang keluar pagi akrab dengan kabut. Termasuk saya yang sejak SMU harus berangkat setelah subuh membelah kabut. Jarak sekolah dengan rumah yang cukup jauh kurang lebih 35 km membuatku akrab sekali dengan kabut pagi. Tak jarang bulu mata ini menebal dengan air kabut yang terperangkap disana. 

Dari pengalaman setiap ada kabut saat pagi yang tebal, siangnya pasti panas terik. BMKG menjelaskan hal tersebut dalam The natural Navigation, bahwa kabut identik dengan karakteristik musim kemarau. dan BMKG menjelaskan alasan ilmiah dibalik terbentuknya kabut. 

Pertama, Bisa dicermati saat langit malam sangat cerah, pagi harinya pasti berkabut yang di sebut dengan kabut radiasi. tanpa adanya awan yang menahan panas bumi, seluruh panas dari bumi lepas ke luar angkasa, sehingga suhu malam hingga pagi menjadi sangat dingin. 

Kedua, Kondensasi maksimal, suhu dingin ekstrim di permukaan tanah langsung mendinginkan udara lembab diatasnya, sehingga terbentuk kabut tebal di pagi hari. 

Ketiga, Terik di siang hari, hal ini disebabkan karena sejak malam hingga pagi tidak ada awan penghalang di langit, Saat matahari terbit langsung membakar kabut hingga menguap. Itulah mengapa saat siang menjadi sangat terik dan panas.

Namun saat ini kabut memang mewakili pikiranku, menyelimuti otak menghambatku dalam memulai menulis lagi. Akhir yang terjadi adalah merangkak dalam kelam, mencoba mengeluarkan ide yang sekian lama beku. 

***-----***    

Komentar

Popular Post

Diklat Jurnalistik Batch II

Belum menulis batch I tapi tiba tiba sudah melampaui batch II. Diklat menulis berita yang diselenggarakan PC LP Ma'arif NU Tulungagung di gelar hari Rabu, 13 Agustus 2025. Gerak cepat pengurus PC LP Ma'arif Tulungagung yang di gawangi oleh Dr. Ahmad Supriyadi seakan akan berlari cepat. Dalam waktu satu minggu bidang Penelitian Publikasi dan Media Informasi melaksanakan dua kali diklat yang sama.  Diklat pertama diselenggarakan pada Sabtu 9 Agustus 2025, pesertanya adalah guru guru mulai dari RA/TK, MI/SD dan SMP/MTs serta SMA/SMK dan MA. Yang kedua ini dilaksanakan untuk guru guru madin dan guru TPQ dan Kortan MWC untuk juga bisa menambah pengetahuan mengenai dunia tulis menulis.  Pelatihan ini mengangkat tema bukan sekedar menulis tapi tentang mempengaruhi. Saatnya cerita hebat dari madrasah didengar dunia. Antusiasme peserta ternyata luar biasa, ratusan peserta memadati meeting hall Lembaga Pendidikan Ma'arif Tulungagung.   Diklat pertama menghadirkan pemateri dari...

Secuil surga itu bernama "Munjungan"

Pulang dari sekolah jam menunjukkan pukul 13.00 saat WA grup saya terima kiriman berita duka. Ibunda Bapak Nurul Amin (Ketua STAIM Tulungagung) meninggal dunia. Beberapa saat kemudian suami saya menelpon untuk siap siap melayat ke rumah duka.  Sebelum tahu dimana rumah duka saya bersiap sambil menunggu suami pulang dari tempat kerjanya.  Beberapa teman oleh suami di kontak untuk bersama sama melayat.  Ternyata rumah ibunda bapak Nurul Amin di Munjungan Trenggalek. Saya belum pernah ke sana tapi cerita teman teman munjungan adalah "The most difficult journey" .  Akhirnya perjalanan menuju ke Trenggalek berempat, Saya, Suami, Dr. Nurkholis dan Nur Yasin menuju ke Trenggalek. Sesampainya di Trenggalek bergabung bersama kami Bapak Dr. Suripto. Kontan saja oleh suami di sodori untuk setir untuk menjadi driver ke Munjungan.  Dr. Suripto sahabat suami saat berkidmat di KPU. Beliau Ketua KPU Trenggalek. Jadi kami semua memiliki kesimpulan bahwa beliau yang p...

kekuatan kata "kita" dalam penikahan (3)

  Merawat kata "kita" sebagai bentuk the promise of usness dalam pernikahan yang ketiga adalah rasa aman. memahami bahwa dalam pernikahan itu adalah saling terpaut, rela membagikan diri untuk menciptakan satu keutuhan dalam mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satunya dengan memberikan rasa aman. Usness akan berkembang saat pasangan dalam pernikahan merasa aman. Aman dalam hal apa, dalam hal menjadi diri sendiri, tanpa takut dihakimi, di tolak dan dilukai. Rasa aman bukan hanya terbebas dari ancaman fisik, tetapi merasa diterima, di cintai dan didengarkan. Saat rasa aman itu diperoleh dalam hubungan pernikahan maka seseorang yang terikat dalam mahligai ini akan bebas mengekpresikan emosi, saat senang ataupun saat kurang baik suasana hatinya. Istri berani bercerita tentang luka masa lalu, tentang kehidupan yang kelam atau trauma masa kecil tanpa dihakimi dan disalahkan oleh suami. Atau saat suami kehilangan segalanya saat berbisbis, istri tidak serta merta meninggalka...

Kran Desentralisasi Madrasah

Pagi ini lagi-lagi mengikuti webinar. Hari ini dari PGMI (Persatuan Guru Madrasah Indonesia) kabupaten Tulungagung. Webinar ini menurut saya sangat perlu untuk perkembangan madrasah saya, karena terkait dengan tema yang menarik, yakni kurikulum darurat madrasah saat covid-19 melanda di Indonesia. Materi ini disampaikan oleh Bapak Ahmad Hidayatullah Direktur KSKK ( Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Republik Indonesia. Beliau menyampaikan materi dengan membagi pemaparannya dalam tiga hal, yakni paradigma pembelajaran, AKM dan Survey Pendidikan serta Implementasi Kurikulum Darurat. Bapak Ahmad Hidayatullah adalah seorang revolusioner penyelenggaraan madrasah. Mendobrak habis budaya-budaya Pendidikan yang tidak memerdekakan guru dan siswa. Latar belakang beliau yang sudah malang melintang di dunia Pendidikan menjadikan beliau sangat tahu seluk beluk problematika madrasah. ...