Langsung ke konten utama

Jalan berliku menuju sukses TKA

 


Hitungan hari anak anak akan dihadapkan oleh sebuah tes akhir yang bukan penentu kelulusan sekolah layaknya ujian nasional, namun alat ukur capaian murid secara standar. Mulai dari kelas 6 tingkat dasar, kelas 9 dan kelas 12 tingkat atas. Yang dikenal dengan singkatan TKA

TKA adalah Tes Kemampuan Akademik yang dilaksanakan secara nasional kepada seluruh siswa di tingkatan yang saya sebut diatas. Sifat yang tidak wajib ini menjawab ketakutan terhadap tidak lulusnya siswa karena rentang nilai. 

Fun fact nya TKA ini menjawab tantangan dalam penilaian yang beragam antar sekolah dan madrasah.Juga TKA bisa menjadi salah satu pertimbangan seleksi ke jengang pendidikan selanjutnya di SNBP, SNBT dan seleksi lainnya. fun fact lainnya murid mendapat sertifikat hasil TKA. 

Mulai bulan Oktober 2026 dilaksanakan TKA serentak untuk jenjang SMA/MA/SMK sampai jenjang terbawah sampai bulan Januari. Setelah TKA perdana tahun lalu dilaksanakan, tahun ini merupakan tahun kedua dari pelaksanaan TKA. 

Hasil TKA tahun pertama dilansir  berbagai media dan portal resmi kemendiknas bahwa di sebutkan nilai rerata Matematika wajib: 36,10, Bahasa Inggris wajib: 24,9, Bahasa Indonesia wajib: 55,38. Ini bukan angka yang membahagiakan dengan capaian hasil ini. 

kholid Harras mengkritik habis hasil TKA ini sebagai bukti kegagalan pendidikan kita. Dikatakan olehnya jangan sampai kita bekelit dengan alasan pandemi, soal yang sukar, masih belum adanya akses internet yang merata. Semua kesalahan murni ditujukan kepada pendidik yang abai dan tidak kreatif dalam pembelajaran. 

Saya sebagai pendidik dari 20 tahun yang lalu berterimakasih dengan kritik tersebut namun bukan berarti menerima. Kita selalu berusaha menjadi pendidik yang bisa mengantarkan anak didik kita ke tangga kesuksesan. 

Setahun pelaksanaan TKA belum bisa di hakimi sebagai kegagalan pendidikan. Apalagi bertahun tahun pemerintah tidak melaksanakan Ujian Nasional untuk menstandarisasi kelulusan yang bisa menyebabkan murid dan guru terlena dengan proses belajar mengajar. 


Komentar

Popular Post

Diklat Jurnalistik Batch II

Belum menulis batch I tapi tiba tiba sudah melampaui batch II. Diklat menulis berita yang diselenggarakan PC LP Ma'arif NU Tulungagung di gelar hari Rabu, 13 Agustus 2025. Gerak cepat pengurus PC LP Ma'arif Tulungagung yang di gawangi oleh Dr. Ahmad Supriyadi seakan akan berlari cepat. Dalam waktu satu minggu bidang Penelitian Publikasi dan Media Informasi melaksanakan dua kali diklat yang sama.  Diklat pertama diselenggarakan pada Sabtu 9 Agustus 2025, pesertanya adalah guru guru mulai dari RA/TK, MI/SD dan SMP/MTs serta SMA/SMK dan MA. Yang kedua ini dilaksanakan untuk guru guru madin dan guru TPQ dan Kortan MWC untuk juga bisa menambah pengetahuan mengenai dunia tulis menulis.  Pelatihan ini mengangkat tema bukan sekedar menulis tapi tentang mempengaruhi. Saatnya cerita hebat dari madrasah didengar dunia. Antusiasme peserta ternyata luar biasa, ratusan peserta memadati meeting hall Lembaga Pendidikan Ma'arif Tulungagung.   Diklat pertama menghadirkan pemateri dari...

Secuil surga itu bernama "Munjungan"

Pulang dari sekolah jam menunjukkan pukul 13.00 saat WA grup saya terima kiriman berita duka. Ibunda Bapak Nurul Amin (Ketua STAIM Tulungagung) meninggal dunia. Beberapa saat kemudian suami saya menelpon untuk siap siap melayat ke rumah duka.  Sebelum tahu dimana rumah duka saya bersiap sambil menunggu suami pulang dari tempat kerjanya.  Beberapa teman oleh suami di kontak untuk bersama sama melayat.  Ternyata rumah ibunda bapak Nurul Amin di Munjungan Trenggalek. Saya belum pernah ke sana tapi cerita teman teman munjungan adalah "The most difficult journey" .  Akhirnya perjalanan menuju ke Trenggalek berempat, Saya, Suami, Dr. Nurkholis dan Nur Yasin menuju ke Trenggalek. Sesampainya di Trenggalek bergabung bersama kami Bapak Dr. Suripto. Kontan saja oleh suami di sodori untuk setir untuk menjadi driver ke Munjungan.  Dr. Suripto sahabat suami saat berkidmat di KPU. Beliau Ketua KPU Trenggalek. Jadi kami semua memiliki kesimpulan bahwa beliau yang p...

Aisyah (The Greatest Woman in Islam)

Resensi buku Nama Buku     : Aisyah ra. (The Greatest Woman in Islam) Pengarang        : Sulaiman An-Nadawi, Penerbit            : Qisti Press, 2007 Halaman            : 341 Halaman + xlii Lagu viral saat ini yang berjudul Aisyah, menghentak dunia maya. Sebelum Ramadhan sampai kini. Sosok seperti Apakah Sayyidah Aisyah?? Lepas dari lagu yang tersebut, sebenarnya saya pada dihadiahi sebuah buku oleh suami setelah pernikahan saya di 2007. Judulnya Aisyah r.a yang akan saya resensi kali ini. Dia di juluki humaira’, dia adalah istri Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau di kenal sebagai Ummul Mukminin. Biografinya di tulis lengkap dalam buku ini, bagaimana sisi sang Sayyidah Aisyah dalam intelektualitas, romantisme dan heroismenya. Buku ini bercerita dari masa kecil Aisyah, sampai pada kecerdasannya mengumpulkan hadits-hadits...

Toxic untuk Penulis

  Suara guruh yang menggelegar beberapa kali sedikit banyak menyurutkan semangat saya mengikuti njagong santai di zoom bersama Bapak Fahru dan Dr. Ngainun Na'im. Namun dengan menghela nafas panjang sembari berucap Bismillahirrahmanirrahim saya tekatkan untuk tetap mengikuti acara bincang santai ini, dalam hati saya berdo'a semoga tidak terjadi gangguan akibat kilat dan guruh yang bersahutan terhadap peralatan elektronik yang membantu saya mengikuti njagong virtual ini.  Njagong selama hampir 2.5 jam ini dikemas secara santai dan rasa kebersamaan yang sangat renyah. Peserta yang hadirpun ada dari luar pulau Jawa. Saya bersyukur bisa bertemu banyak orang hebat yang sudah menerbitkan buku. Baik secara Ontologi maupun Pribadi dan beberapa dari penulis sudah mampu menembus ke penerbit mayor,  maupun menerbitkan secara mandiri.   Perbincangan mengalir dengan santai meskipun materinya bernas dan berat. Dan malam ini mendapatkan magic moment  yakni menik...