Langsung ke konten utama

Cerminan Hati



Perbuatan kita sehari hari tidak lekang dari hasil pemikiran dan tuntunan kata hati kita, menjadi baik atau buruk ada tiga dimensi yang menentukan. cerminan hati yang berupa perbuatan bisa mengarah kepada kita sebenarnya siapa. Meski di tutup tutupi dengan kebohongan, namun nanti akan tampak jugalah keaslian hati kita seperti apa. 

perbuatan yang terlihat oleh orang lain itu sejatinya adalah bentuk komunikasi dengan mereka. dalam proses komunikasi ini ada tiga faktor yang sangat berpengaruh terhadap diri seorang, yaitu: 

1. Head merupakan simbol fikiran. fikiran dapat dipengaruhi oleh penglihatan dan pendengaran kita terhadap dunia luar. Pikiran mengolah dengan karakteristik rasionalnya, mengabaikan dulu perasaan. 

2. Heart adalah simbol hati yang memiliki kecenderungan suprarasional. dalam hati ini condong kepada empati dan sikap positif terhadap kebenaran dan kekuatan. di hati pula ada nafsu tersembunyi seperti cemburu, dengki, iri, marah 

3. Hand adalah buah dari hati dan fikiran yang menjadi perbuatan, mengedepankan perbuatan itu apakah yang paling dominan dipengaruhi oleh hati atau fikiran. 

Head atau pikiran merupakan pusat pengolahan informasi, logika, dan penalaran. Melalui pikiran, manusia mampu membedakan yang benar dan salah, merencanakan tindakan, serta mengambil keputusan.

Namun, pikiran yang cerdas tanpa bimbingan hati dapat menjadi kering dan bahkan menyesatkan. Di sinilah pentingnya hati sebagai pengendali. Pikiran yang baik adalah pikiran yang dipandu oleh nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Hati (heart)  adalah pusat rasa, empati, dan nilai moral. Dari hati lahir keikhlasan, kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran. Hati yang baik akan melahirkan pikiran yang positif dan tindakan yang bermanfaat.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, amarah, dan kesombongan akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang. Oleh karena itu, menjaga hati menjadi kunci utama dalam membangun karakter.

Hand (tangan) adalah simbol perbuatan. Komunikasi interpersonal disimbolkan sebagai hand, ditentukan interelasi head dan heart. Mengedepankan head berarti yang bersangkutan lebih menonjolkan diri sendiri, egois (super man). Akibatnya komunikasi interpersonal menjadi kurang baik. Mengedepankan heart berarti komunikasi interpersonal mendorong terbangunnya super tim. Buta pikiran, adalah kebodohan, buta hati adalah kejahatan.

Ketiga unsur ini antara Head memberi arah (apa yang benar), Heart memberi makna (mengapa itu penting) dan Hand memberi bukti (bagaimana itu dilakukan) haruslah berjalan selaras. 

Jika hati bersih, maka pikiran akan jernih dan tindakan akan lurus. Namun jika hati rusak, maka pikiran bisa menjadi licik dan tindakan menjadi menyimpang.

Dengan demikian, hati menjadi pusat kendali. Ia adalah sumber dari segala keputusan dan tindakan. Maka memperbaiki hati berarti memperbaiki seluruh aspek kehidupan.

Komentar

Popular Post

Diklat Jurnalistik Batch II

Belum menulis batch I tapi tiba tiba sudah melampaui batch II. Diklat menulis berita yang diselenggarakan PC LP Ma'arif NU Tulungagung di gelar hari Rabu, 13 Agustus 2025. Gerak cepat pengurus PC LP Ma'arif Tulungagung yang di gawangi oleh Dr. Ahmad Supriyadi seakan akan berlari cepat. Dalam waktu satu minggu bidang Penelitian Publikasi dan Media Informasi melaksanakan dua kali diklat yang sama.  Diklat pertama diselenggarakan pada Sabtu 9 Agustus 2025, pesertanya adalah guru guru mulai dari RA/TK, MI/SD dan SMP/MTs serta SMA/SMK dan MA. Yang kedua ini dilaksanakan untuk guru guru madin dan guru TPQ dan Kortan MWC untuk juga bisa menambah pengetahuan mengenai dunia tulis menulis.  Pelatihan ini mengangkat tema bukan sekedar menulis tapi tentang mempengaruhi. Saatnya cerita hebat dari madrasah didengar dunia. Antusiasme peserta ternyata luar biasa, ratusan peserta memadati meeting hall Lembaga Pendidikan Ma'arif Tulungagung.   Diklat pertama menghadirkan pemateri dari...

kekuatan kata "kita" dalam penikahan (3)

  Merawat kata "kita" sebagai bentuk the promise of usness dalam pernikahan yang ketiga adalah rasa aman. memahami bahwa dalam pernikahan itu adalah saling terpaut, rela membagikan diri untuk menciptakan satu keutuhan dalam mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satunya dengan memberikan rasa aman. Usness akan berkembang saat pasangan dalam pernikahan merasa aman. Aman dalam hal apa, dalam hal menjadi diri sendiri, tanpa takut dihakimi, di tolak dan dilukai. Rasa aman bukan hanya terbebas dari ancaman fisik, tetapi merasa diterima, di cintai dan didengarkan. Saat rasa aman itu diperoleh dalam hubungan pernikahan maka seseorang yang terikat dalam mahligai ini akan bebas mengekpresikan emosi, saat senang ataupun saat kurang baik suasana hatinya. Istri berani bercerita tentang luka masa lalu, tentang kehidupan yang kelam atau trauma masa kecil tanpa dihakimi dan disalahkan oleh suami. Atau saat suami kehilangan segalanya saat berbisbis, istri tidak serta merta meninggalka...

Merawat diri dalam situasi yang tak pasti (Jaga Diri, Jaga Mereka, Jaga Indonesia)

  Tulisan dari IPK (Ikatan Psikologi Indonesia) menurut saya menenangkan. mereka mengetengahkan tips cara merawat kesehatan mental ditengah situasi Indonesia yang tidak menentu, Respon masyarakat terhadap kebijakan yang penuh kontroversi adalah di beberapa kota kota besar terjadi aksi unjuk rasa dan demonstrasi. Pemicu utamanya saya rasa kenaikan gaji dewan perwakilan rakyat yang dianggap berlebihan. Di kala rakyat kecil terbebani   biaya hidup, kemiskinan dan akses Kesehatan yang dipersulit. Masyarakat marah dan terima dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Terlebih lagi ucapan beberapa anggota dewan yang menyebutkan kata tidak patut di dengar menambah lagi kemarahan massa. Maka aksi massa tidak terhindarkan   dimulai dari tanggal 25 Agustus 2025. Aksi besar di Gedung DPR RI tanggal 28 Agustus mendapat highlight yang sangat eksposur dari media dalam dan luar negeri. Dimana pengemudi ojol yang Bernama Affan Kurniawab 21 tahun tewas di lindas mobil r...

Cuilan Cerita dari Dr. Muhsin Kalida

Rangkaian Haflah Khotmil Qur'an di Ponpes Roudhotu Huffadzil Qur'an masih melekat dihatiku. Betapa tidak, 27 Khotimin dan Khotimat salah satunya adalah murid saya di MI. Ahmad Mulki Miftah Arroziq yang sekarang duduk di semester 2 di UIN SATU Tulungagung. Saya salah satu guru yang bahagia saat melihat anak didik selesai dalam menghafal Al-Qur'an.  Ditambah lagi dengan suasana penuh khidmat mendengarkan tausiyah dari penceramah yang tidak lain adalah Dr. Muhsin Kalida. Saya belum pernah bertemu muka dengan beliau tapi namanya sudah tidak asing di saya karena beberapa kali mengikuti zoom beliau yang diselenggarakan oleh Sahabat Pena Kita, penggiat literasi di bawah asuhan Prof. Ngainun Naim.  Beliau saat covid memberikan support kepada kami, orang gabut yang ingin memanfaatkan waktu dengan hal yang positif. Beliau hadir bersama semangat dan dorongan kepada kami untuk menulis. Karena menulis itu bukan sekedar hobi tapi itu adalah perintah agama namun banyak orang yang abai den...